Gajah Liar Obrak-abrik Kebun Warga di Paya Bakong, Pemerintah Diminta Serius, Bantuan Mercon Kurang Efektif

Picsart 08 10 10.32.19 Gajah Liar Obrak-Abrik Kebun Warga Di Paya Bakong, Pemerintah Diminta Serius, Bantuan Mercon Kurang Efektif
Warga menunjukkan kebun miliknya yang diobrak-abrik gajah liar di Blang Pante, Kecamatan Paya Bakong. (Foto : Ist)
Bagikan

SatuAcehNews | Aceh Utara – Masyarakat yang berkebun di beberapa pedalaman desa di Kecamatan Paya Bakong, Kabupaten Aceh Utara, hingga kini masih terus berupaya menggiring dan menghalau kawanan gajah liar dari areal perkebunan warga.

Sejak dua bulan terakhir ini, gajah liar yang jumlahnya diperkirakan mencapai 20-an ekor berkeliaran di area perkebunan warga yang terletak jauh dari pemukiman penduduk, terutama di Alue Kajeung Gampong (Desa) Blang Pante.

Sertifikat Halal Gratis Aceh

Mukim Kemukiman Pante Bahagia, Tgk. Usman, saat dikonfirmasi wartawan SatuAcehNews, mengatakan, penggiringan dilakukan dengan cara membunyikan mercin. Meski begitupun, gajah-gajah liar enggan meninggalkan lokasi.

Tim mitigasi konflik satwa liar (gajah) yang dibentuk oleh Yayasan Aceh Green Conservation (AGC). Tim Resort 12 KSDA Aceh Utara dibawah Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh juga memberikan mercon sebagai alat untuk penggiringan.

“Sudah beberapa kali dilakukan penggiringan bahkan sampai ke kawasan pegunungan Cut Nyak Meutia, namun gajah-gajah liar tersebut kembali lagi. Sampai sekarang hewan tersebut masih berkeliaran, masyarakat kian resah,” kata Tgk. Usman, Rabu (09/08/2023).

Beberapa jenis tanaman kebun yaitu pohon pinang, sawit, pisang, dan beberapa jenis tanaman lainnya hancur porak-poranda diobrak-abrik hewan dilindungi itu. Bahkan, dua unit sepeda motor yang digunakan warga untuk berkebun juga ringsek diamuk gajah.

Picsart 08 10 10.33.53 Gajah Liar Obrak-Abrik Kebun Warga Di Paya Bakong, Pemerintah Diminta Serius, Bantuan Mercon Kurang Efektif
Dua unit sepeda motor yang ringsek diamuk kawanan gajah liar. (Foto : Ist)

Selain di Blang Pante, kata Tgk. Usman, kondisi yang sama juga terjadi di Bukit Pidie, Alue Lhok, Seuneubok Aceh, Blang Mane, Peureupok, dan Alue Leukot. Diperkirakan, lebih dari 20 Ha kebun warga diobrak-abrik kawanan gajah liar.

Dalam hal ini, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara diminta serius dan lebih memperhatikan nasib masyarakat di sana yang kebunnya dirusak gajah. Tentu masyarakat mengalami kerugian akibat kejadian itu.

Malah sekarang ini, menurut Tgk. Usman, gajah dianggap hama bagi pemilik kebun yang kebunnya diobrak-abrik. Masyarakat pun yang berkebun disana kewalahan setiap kali melakukan penggiringan dan kerap bermalam meskipun beresiko.

“Kita khawatirkan apabila terjadi suatu tindakan yang berujung melukai gajah. Kita tidak mau itu terjadi, maka Pemerintah harus serius dalam hal ini. Disaat rapat membahas terkait penanggulangan konflik satwa ini cobalah undang masyarakat yang kebunnya dirusak gajah liar, jadi bisa sama-sama mencari solusi,” ujar Tgk. Usman.

Tindakan Resort 12 KSDA Aceh Utara Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh.

Kepala Resort 12 KSDA Aceh Utara, Nurdin, mengatakan, pihaknya telah menemui warga dan memberikan bantuan mercon sebagai alat untuk menghalau gajah liar. Seharusnya, ada solusi dari Pemerintah Kabupaten dan Provinsi.

“Kami sudah temui masyarakat disana dan memberikan mercon melalui Mukim Pante Bahagia Tgk. Usman, tentu saat ini butuh solusi dari Pemerintah Kabupaten dan Provinsi. Masyarakat mengalami kerugian, setiap hari kewalahan menggiring gajah liar,” kata Nurdin.

Menurutnya, gajah-gajah liar tidak tau lagi harus kemana. Seperti tidak ada lagi solusi seiring hutan yang terus dibuka baik dalam bentuk Yayasan, HGU, Plasma, Koperasi. Gajah mulai kehilangan habitatnya, dan menyasar ke kebun-kebun masyarakat kecil.

Masyarakat Kewalahan, Bantuan Mercon Kurang Efektif, Harus Ada Penanganan Serius Dari Provinsi.

Sementara itu Camat Paya Bakong, Syahrul Nizam, saat dikonfirmasi SatuAcehNews, mengatakan, memang selama ini masyarakat sudah kewalahan. Kalau dulunya gajah-gajah liar itu mudah digiring atau dihalau, tapi sekarang sulit dan kemudian balik lagi.

“Untuk penanganan yang kami tahu selama ini ada BKSDA. Tapi masih kurang efektif, mungkin keterbatasan anggaran. Penanganan hanya dibantu dengan mercon untuk menghalau gajah liar, kalau kita lihat itu kurang efektif,” kata Syahrul.

Menurutnya lagi, setidaknya ada penanganan serius dari pihak Provinsi. Mungkin bisa dibuat sanctury atau kawasan lainnya untuk mengurangi kerugian dikedua belah pihak baik masyarakat maupun gajah liar. Yang namun pihaknya pun tetap selalu berkoordinasi apabila ada keluhan dari masyarakat, selanjutnya untuk ditindaklanjuti.

Pihaknya juga belum ke lokasi mengingat jarak tempuh yang jauh dan akses yang sulit dilalui, apalagi disaat musim hujan. Untuk laporan kejadian terbaru juga belum pihaknya terima, akan tetapi selama ini hanya menerima laporan dari Geuchik apabila ada gangguan gajah liar.

“Kejadiannya dua hari lalu sudah lama, untuk laporan terbaru belum ada. Ke lokasi pun jauh, apalagi disaat kondisi sedang hujan. Tapi kita tetap koordinasikan ke Kabupaten, dari Kabupaten mungkin ke Provinsi,” ujar Syahrul. (CSB)

Sertifikat Halal Gratis Aceh

Bagikan